Berikut adalah ringkasan isi buku berdasarkan gambar-gambar yang diberikan:
Buku ini membahas tentang kesuksesan Elon Musk dan mengapa model bisnisnya patut dijadikan contoh, terutama dalam konteks perbandingan dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia.
Kisah Elon Musk: * Elon Musk menjual PayPal dan mendapatkan $180 juta yang kemudian diinvestasikan ke Space X, baterai, Tesla, dan panel surya. Menariknya, uang hasil penjualan PayPal tersebut habis dalam waktu kurang dari 24 jam karena langsung diinvestasikan, bahkan ia harus menginap di sofa temannya. * PayPal adalah wujud mimpi Elon Musk untuk menciptakan inklusi finansial dan sarana keuangan digital yang andal dan terpercaya, sesuatu yang belum ada 20 tahun lalu. * Mimpi keduanya adalah energi berkelanjutan, fokus pada listrik sebagai bahan bakar kendaraan dan baterai sebagai penyimpanan energi, dengan tujuan menciptakan dunia yang lebih sehat dan tidak merusak lingkungan seperti produk berbahan bakar minyak bumi dan batubara. * Ketika roket Space X diluncurkan, biayanya hanya seperduapuluh lebih murah dari roket negara manapun, yang membuat Space X kebanjiran pesanan pengiriman satelit ke orbit. * Tesla, yang awalnya diinvestasikan $70 juta, kini bernilai $330 miliar. Penulis menyarankan untuk berinvestasi pada saham Tesla atau apa pun yang diinvestasikan Elon Musk.
Perbandingan dengan BUMN Indonesia: * Penulis membahas Elon Musk sebagai pengingat sisi lain dalam membangun bangsa, terutama karena BUMN di Indonesia banyak yang merugi atau bermasalah (Garuda, Pertamina, PLN, dll.) dengan cash flow yang berat. * Bank "pelat merah" (BUMN) juga mengalami masalah dengan LDR (Loan to Deposit Ratio) yang mentok, dan banyak kredit yang macet atau perlu restrukturisasi. * Penulis secara terang-terangan menyatakan anti "negara berbisnis" karena menganggap BUMN di bawah kementerian adalah "negara berbisnis" yang sangat tidak disukai. * Penulis mengkritik penggunaan BUMN sebagai mesin penggerak ekonomi sejak 2015, dan puncaknya di 2019 menyatakan bahwa itu "jebol boss!!!". * Musuh dari kelincahan berbisnis adalah BIROKRASI!!! Ini menjadi poin sentral kritik. NASA pernah mengatakan "put man on mars" adalah pemborosan uang ($20 miliar per orang) dan tidak mungkin. Program luar angkasa pemerintah (NASA, Rusia, China) mengalami masa redup dibandingkan zaman keemasan saat Perang Dingin. * Birokrasi memperlambat pengambilan keputusan, yang di swasta dianggap haram, tetapi di pemerintahan adalah kehati-hatian. Elon Musk, tanpa birokrasi, bisa bertindak cepat dan berhasil menempatkan manusia di Mars dengan biaya hanya $1 juta. * Kecerdikan Elon Musk dengan Space X yang biayanya 1/20 dari biaya program peluncuran benda ke orbit pemerintah negara, membuatnya diduga akan mengendalikan satelit dan luar angkasa. "Dialah the winner take all nya angkasa!" * Elon Musk akan "mengontrol" satelit-satelit baru yang dipasang oleh Space X karena sistem informasi, data, telekomunikasi, dan keuangannya akan menjadi infrastruktur digital masa depan. * Penjelasan mengapa BUMN tidak efektif, merugikan, dan mengapa tetap dianakemaskan padahal sudah tahu tidak efektif. * Penulis menyerukan demokratisasi pasar, bisnis tidak boleh dimonopoli atau diotoriterkan, karena itu "Ngak jalan!!!" * Saran penulis adalah agar swasta ke depannya boleh memiliki dunia perminyakan.
Kesimpulan: Buku ini mengadvokasi model bisnis yang lincah, inovatif, dan bebas birokrasi ala Elon Musk sebagai antitesis terhadap model bisnis BUMN yang dianggap lambat, tidak efisien, dan merugi akibat terbelenggu birokrasi dan intervensi negara, serta menyarankan agar sektor-sektor strategis dapat dibuka lebih luas untuk swasta.

Komentar