Berikut ringkasan isi buku berdasarkan gambar-gambar yang diberikan:
Buku ini berjudul "Menguasai Bahasa Inggris Cepat Full Conversation Tanpa Grammar" dan diawali dengan "Kata Pengantar" oleh Teguh Handoko. Kata pengantar ini ditujukan kepada orang-orang yang merasa putus asa belajar bahasa Inggris, yang sudah belajar lama tapi tidak ada kemajuan, yang ingin menguasai bahasa Inggris dengan mudah dan praktis, serta yang ingin meningkatkan nilai jual diri untuk menghadapi persaingan. Penulis menawarkan ebook ini secara GRATIS dan menyebutkan beberapa referensi yang bisa dihubungi. Penulis juga menegaskan bahwa ebook ini benar-benar GRATIS dan meminta pembaca untuk tidak memperbanyak atau mengubah isi tanpa izin.
Chapter I: What is English
Bab pertama membahas tentang apa itu Bahasa Inggris. Penulis menekankan bahwa Bahasa Inggris adalah alat komunikasi dan bukan hanya sekadar teori atau alat yang tidak bisa dipergunakan. Dijelaskan bahwa dalam pergaulan sehari-hari, manusia berkomunikasi untuk menyampaikan Pikiran (thought), Perasaan (feeling), dan Kebutuhan (needs).
Penulis kemudian mengilustrasikan hal ini dengan sebuah cerita tentang seorang anak perempuan berusia 10 bulan bernama Neneng. Neneng menangis karena ingin menyampaikan perasaannya kepada sang ibu (pikiran, perasaan, dan kebutuhan). Sang ibu akhirnya mengerti dan memberinya balon. Cerita ini digunakan untuk menunjukkan bahwa Neneng menggunakan "alat" komunikasi (tangisan) untuk menyampaikan kebutuhannya, dan ini sama seperti fungsi Bahasa Inggris.
Penulis mengajak pembaca untuk merenung, apakah mereka hanya punya 2 (dua) kata bahasa Inggris di benak mereka. Kebanyakan orang akan menjawab lebih dari 30 kata. Penulis menggarisbawahi bahwa kesalahan terbesar adalah tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi.
Dilanjutkan dengan pembahasan "Cara orang berkomunikasi melalui beberapa media yaitu bicara (speaking), ada yang bicara tentu ada yang mendengar (listening), setelah ditemukannya tulisan maka orang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tulisan (writing), dan tentu saja ada yang membaca (reading)". Ini disebut sebagai 4 keterampilan bahasa atau 4 skills of language:
- Listening: Memiliki kemampuan untuk memahami pembicaraan orang.
- Speaking: Memiliki kemampuan untuk menyampaikan semua bentuk pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara lisan.
- Reading: Memiliki kemampuan untuk memahami bacaan.
- Writing: Mampu menyampaikan pikiran, perasaan, atau kebutuhan dalam bentuk tertulis.
Penulis dengan tegas menyatakan bahwa tujuan belajar bahasa bukan untuk grammar. Belajar grammar justru membuat pusing dan tidak ada kemajuan. Ditekankan bahwa "Language is a set of skills" (Bahasa adalah seperangkat keterampilan). Ada perbedaan antara "Pengetahuan" (cognitive domain) dan "Keterampilan" (motoric domain). Pelajaran di sekolah kebanyakan masuk ranah kognitif yang mudah dihafal. Sedangkan keterampilan masuk ranah motorik atau gerak, seperti berenang. Untuk menguasai keterampilan, harus "gerak" atau praktik, bukan hanya berpikir.
Selanjutnya, buku ini menyinggung bahwa tidak ada rumus khusus yang perlu dihafal untuk bisa berenang atau naik sepeda tanpa jatuh, yang ada hanyalah satu langkah sederhana yaitu "Praktik.. Praktik.. Gerak.. Gerak.. Gerak...". Penulis mengutip sebuah iklan imajiner dari Abunawar di Amazon yang mencari "private renang" untuk seorang multi-milyarder di Yaman, tetapi tidak bisa berenang, menunjukkan bahwa meskipun banyak teori, tanpa praktik akan sia-sia.
Pertemuan 01
Bagian ini memperkenalkan metode belajar "Belajar KungFu" dari Jet Lee. Ini adalah sebuah ilustrasi atau perumpamaan untuk menjelaskan cara belajar. Dikisahkan tentang 200 orang peserta yang datang untuk belajar Kung Fu. Pada pertemuan pertama, Jet Lee menjelaskan Bab I "Pengantar Kungfu" (yang ternyata isinya sama dengan materi yang sudah dijelaskan sebelumnya dalam buku ini tentang pentingnya alat komunikasi, pikiran, perasaan, dan kebutuhan). Setelah 20 menit, bel berbunyi.
Pertemuan 02
Pertemuan kedua membahas Bab II "Rumus-Rumus Pukulan". Jet Lee menjelaskan berbagai jenis pukulan, cara menghitung efek pukulan, dan latihan-latihan. Lalu peserta diminta berlatih dan besoknya akan membahas "Rumus-Rumus Tendangan".
Pertemuan 03, 04, dst. sampai Pertemuan 32
Peserta terus belajar "Rumus Tendangan", "Rumus Tangkisan", dan berbagai jurus lainnya. Jet Lee mengingatkan peserta untuk tidak sombong dan terus berlatih.
Di akhir sesi ini, penulis bertanya: "Benarkah 200 Peserta itu kini sudah menguasai Kung Fu? Jika jawabanmu TIDAK.. Mengapa Demikian??" dan dijawab dengan "Benar sekali!! Tak satupun dari 200 orang peserta itu yang MENGUASAI KUNG FU. Mereka hanya memiliki PENGETAHUAN tentang Kung Fu itu saja β bukan menguasai Kung Fu itu sendiri".
Kesimpulan:
Buku ini bertujuan untuk mengubah cara pandang pembaca tentang belajar bahasa Inggris. Penulis menekankan bahwa bahasa Inggris harus dipandang sebagai alat komunikasi dan keterampilan (motoric skill), bukan sekadar kumpulan pengetahuan (cognitive skill) atau grammar yang harus dihafal. Untuk menguasai bahasa Inggris, yang terpenting adalah praktik secara terus-menerus dan menggunakannya untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan, sama seperti menguasai keterampilan fisik seperti berenang atau Kung Fu, bukan hanya mempelajari teori-teorinya saja.

Komentar