Berdasarkan gambar-gambar halaman buku yang diberikan ("Teruslah Bodoh Jangan Pintar" karya Tere Liye), buku ini tampaknya adalah sebuah kumpulan cerita atau novel yang diawali dengan penokohan dan latar belakang.
Ringkasan isi buku (berdasarkan halaman yang tersedia):
Buku ini dimulai dengan sebuah alur cerita persidangan di ruangan berukuran 3x6 meter. Ruangan itu digambarkan terlalu kecil dan biasa untuk sebuah saksi kejadian penting. Tata letak kursi yang tidak teratur, membuat ruangan terasa sesak. Digambarkan ada dua baris kursi yang saling berhadapan, yang kemungkinan merupakan kubu yang berbeda dalam persidangan.
Persidangan telah dimulai beberapa menit lalu. Saksi dipanggil dan ditanya mengenai kejadian pada hari Kamis, 16 Agustus 1990, pukul sebelas siang. Saksi, seorang pria paruh baya, terlihat kurus dan tampak lebih tua dari usianya. Ia mengingat kejadian itu dan diminta untuk menceritakannya. Saksi tersebut tampak tertekan dan mengingat kembali tayangan yang menyakitkan baginya dari peristiwa 30 tahun yang lalu.
Setelah adegan persidangan, cerita beralih ke masa lalu, tepatnya pada hari yang sama dengan yang ditanyakan di persidangan 16 Agustus 1990. Sekelompok anak bermain bola dan bersenda gurau di jalanan. Mereka tampak riang meskipun kepanasan. Terjadi dialog antar anak-anak, yaitu Mukti, Badrun, dan Ahmad, mengenai permainan sepak bola mereka. Tampaknya mereka baru saja selesai bertanding dalam kejuaraan bola antarkampung dan menang 4-0.
Setelah pertandingan, mereka pulang ke kampung dan melewati jalanan setapak yang gersang. Udara terasa terik. Salah satu anak, Ahmad, berhenti dan melihat sebuah lubang besar berisi air. Meskipun bahaya dan larangan dari Pak Kadus (Kepala Dusun), anak-anak itu tertarik untuk mandi di sana. Mereka melepaskan kaos dan sepatu. Badrun sempat berteriak "LOMPATAN MATEOOR!" dan melompat ke dalam air. Anak-anak lain mengikutinya, saling memerciki air. Ahmad ragu untuk ikut karena takut pada ayahnya, namun teman-temannya meyakinkan bahwa tidak ada yang akan melapor ke Pak Kadus. Akhirnya, Ahmad pun ikut melompat, meskipun teman-temannya menyindirnya.
Kesimpulan:
Buku ini kemungkinan besar menggunakan gaya penceritaan flashback, di mana sebuah peristiwa di masa kini (persidangan) memicu ingatan atau kilas balik ke masa lalu (peristiwa 16 Agustus 1990). Kisah di masa lalu berpusat pada sekelompok anak-anak yang bermain dan menghadapi dilema kenakalan masa kecil. Dari perpaduan antara nuansa persidangan yang serius dan kejadian masa lalu yang riang namun berpotensi berbahaya, dapat disimpulkan bahwa buku ini kemungkinan akan menggali dampak sebuah peristiwa masa lalu terhadap kehidupan seseorang di masa depan, mungkin dengan tema tentang ingatan, konsekuensi, atau pelajaran hidup dari pengalaman masa kecil.
