Berikut ringkasan isi buku berdasarkan gambar-gambar halaman yang diberikan:
Buku ini membahas tentang solusi bernegara, khususnya membandingkan kondisi ekonomi dan penanganan krisis antara Singapura dan Indonesia.
Penulis memulai dengan pengalaman makan siang bersama teman lama dari Singapura, yang berujung pada diskusi serius mengenai kondisi ekonomi kedua negara. Teman tersebut menjelaskan bahwa ekonomi Singapura mengalami penurunan PDB sebesar 12,6% dan menyusut 40% (semester kedua 2020), yang merupakan ancaman besar karena Singapura tidak memiliki sumber daya alam dan bergantung pada pangan. Namun, pemerintah Singapura proaktif menginformasikan dan mempersiapkan masyarakat akan resesi, bahkan PM Singapura sendiri menyampaikan pidato peringatan dini.
Sebaliknya, penulis mengkritik pemerintah Indonesia yang dinilai "terlalu positif" dalam menyampaikan informasi, tidak diikuti tindakan produktif, dan cenderung menutupi realitas negatif. Penulis merasa kagum dengan solusi bernegara ala Singapura yang lebih jauh dan terencana, meskipun tidak banyak media internasional yang peduli atau bahkan tidak mengerti karena kendala bahasa atau memang tidak peduli.
Untuk menjelaskan masalah di Indonesia, penulis menggunakan analogi kiasan. Negara Indonesia diibaratkan sebagai sebuah keluarga yang dikelola ketat oleh seorang "emak-emak" (ibu-ibu) yang pelit, sering bersosialisasi dengan kalangan elit, dan pandai mengatur urusan domestik. Namun, ketika pendapatan suaminya (negara) menurun, "emak-emak" ini semakin mengetatkan anggaran. Dia menolak ide suaminya untuk membuat kos-kosan (investasi produktif) karena menganggap uang dapur (anggaran rutin) lebih penting, bahkan bisa menggunakan "sisa" anggaran untuk membeli barang mewah. Akhirnya, warisan keluarga (sumber daya alam/aset negara) mulai digadaikan satu per satu karena kebingungan sang suami akibat pendapatan yang terus menurun.
Kemudian, penulis melanjutkan analogi lain untuk ekonomi Indonesia, yaitu "Toko Kelontong Mom & Pop". Toko ini dimiliki oleh sepasang suami istri (negara) yang bekerja siang malam. Sebagian besar barang dagangan (90%) adalah barang impor. Seiring waktu, toko ini semakin sepi pembeli. Karena banyaknya kebutuhan, pemiliknya terpaksa mengambil barang dagangan satu per satu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama karena anak-anaknya banyak.
Kesimpulan: Buku ini mengkritik perbedaan pendekatan antara Singapura dan Indonesia dalam menghadapi tantangan ekonomi. Singapura dipuji karena transparansi, proaktivitas, dan kesiapan pemerintahnya dalam mengedukasi serta melibatkan masyarakat dalam menghadapi krisis. Sementara itu, Indonesia dikritik karena kurangnya transparansi, kecenderungan menutupi realitas negatif, dan manajemen ekonomi yang dianalogikan kurang produktif serta berfokus pada pengeluaran konsumtif daripada investasi jangka panjang, yang berujung pada ancaman terhadap aset-aset berharga.
