Berikut ringkasan isi dari potongan halaman buku yang ditampilkan (02/09 sampai 08/09):
Tema utama: Seruan untuk menyelesaikan perbedaan berbangsa sekarang dengan menimbang implementasi βRevolusi Mentalβ yang telah digembar-gemborkan Nawacita sekitar enam tahun lalu, namun tanpa hasil nyata yang terlihat.Kritik terhadap pemerintah: Banyak pejabat yang masih menyukai gagasan tersebut, tetapi tidak ada tindakan nyata, akuntabilitas rendah, dan para pemimpin enggan mengungkapkan kekurangan atau memberi solusi yang konkrit.Dunia atas vs rakyat: Narasi menggambarkan adanya jarak antara pihak yang berkuasa dengan rakyat, serta polarisasi antara kelompok yang berbeda pandangan (misalnya terkait isu agama dan kebhinekaan). Penulis mengecam upaya mem-buzz atau menyerang pihak lain sebagai cara bernegara.Seruan pada pemimpin: Bila pengelola negara benar-benar memahami konsep BERNEGARA, maka mereka seharusnya bertindak sebagai βbapak bangsaβ dan bertanggung jawab atas tindakan serta ucapan mereka. Kritikan terhadap kebijakan yang tidak konsisten atau membangun kebencian disorot keras.Perilaku dan contoh sehari-hari: Digunakan contoh yang sederhana (seorang anak kecil/kejadian sehari-hari) untuk menunjukkan bagaimana tindakan pemimpin membentuk norma sosial dan etika bernegara. Kritik terhadap cara orang tua dan pejabat dalam membangun sikap santun, hormat, dan saling menghargai.Nada ajakan moral: Penulis mengajak pembaca untuk tidak bersembunyi di balik pernyataan kosong, melainkan mengedepankan akal sehat, saling menghormati, dan mencari solusi bersama sebagai landasan berpikir bernegara.Pesan terakhir: Ditekankan pentingnya landasan berpikir yang kritis terhadap perilaku pemimpin. Menjadi jelas bahwa apa yang dikatakan dan dilakukan para pengelola negara akan menentukan nasib bangsa; jika tidak ada kemajuan dalam persatuan, kajian ulang terhadap cara bernegara diperlukan.