Berikut ringkasan isi buku berdasarkan halaman-halaman yang ditampilkan:
Buku ini merupakan kritik satiris terhadap pengelolaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan hubungannya dengan APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara). Dibahas perbandingan antara keuntungan/BUMN dengan pendapatan negara, serta benchmark dari perusahaan besar dunia (Saudi Aramco, Apple) untuk menunjukkan potensi APBN jika dikelola lebih efisien.Inti argumen: aset BUMN sangat besar (nilai aset puluhan ribu hingga ribuan triliun rupiah). Seharusnya omzet (pendapatan) BUMN selaras dengan nilai asetnya, sehingga kontribusinya terhadap APBN bisa lebih signifikan.Kritik utama terhadap manajemen BUMN: kementerian yang terlalu dimanjakan regulasi dan dana APBN, sehingga menghambat performa. Ada pengandaian bahwa APBN seharusnya membayar BUMN jika performanya buruk, bukan sebaliknya.Nada utama: mengajak perbaikan profesionalisme dan akuntabilitas, mengurangi ketergantungan pada APBN, serta mendorong BUMN agar tidak menindas UMKM atau mengambil sisi hulu yang dapat menekan pelaku usaha kecil.Dialog tentang βmodel bisnisβ sederhana untuk menggambarkan bagaimana seharusnya bisnis berjalan: aset (modal) tertentu, omzet harian/tahunan, dan laba bersih. Dijelaskan konsep rumus 1-2-3 untuk tumbuhnya omzet, aset, dan laba, dengan asumsi pertumbuhan yang wajar (1x di tahun pertama, lalu 2β3x di tahun berikutnya).Contoh konkret: jika sebuah usaha memiliki aset 500 juta, omzet tahunan 500 juta, laba bersih sekitar 20% (100 juta). Jika bisa tumbuh sesuai pola 1-2-3, omzet bisa naik menjadi 3 miliar pada fase selanjutnya; contoh ini dipakai untuk menegaskan bahwa βbisnis bagusβ adalah yang omzetnya tumbuh sejalan dengan peningkatan aset.Pertanyaan retoris tentang kontribusi APBN: βBerapa setoran APBN dari BUMN?β dan kritik bahwa seharusnya BUMN yang menyetor kepada APBN, bukan sebaliknya. Ini menyoroti ketidakpastian dan ketidaksepahaman publik mengenai alokasi dan aliran dana.Nada penutupnya berupa sindiran terhadap praktik manajemen yang dianggap kurang efektif, serta ajakan untuk efisiensi biaya dan transparansi agar beban publik tidak makin berat.Singkatnya, buku ini menggugat cara pengelolaan BUMN saat ini, menekankan pentingnya kemandirian finansial BUMN, akuntabilitas terhadap APBN, dan penerapan prinsip-prinsip bisnis yang lebih rasional serta efisien.